Jumat, 03 Mei 2013

SUKU DAYAK PUNAN, KALIMANTAN BARAT

     Punan merupakan salah satu rumpun suku Dayak yang ada di Provinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur. Suku Dayak Punan ini juga tersebar di beberapa daerah yaitu Daerah Sabah dan Serawak, Malaysia Timur yang menjadi bagian dari Pulau Kalimantan.

     Dari cerita dan riwayatnya, leluhur mereka ini asal-usulnya datang dari negri yang bernama "Yunan" sebuah daerah dari daratan Cina. Mereka ini berasal dari sebuah keluarga salah satu kerajaan di Cina yang kalah berperang dan kemudian lari bersama perahu-perahu, sehingga sampai ke tanah Pulau Kalimantan. Dikarenakan di daerah ini mereka merasa aman, maka mereka tinggal dan menetap di Pulau Kalimantan.

     Dari berbagai Suku Dayak, orang Punan ini merupakan suku yang paling terbelakang baik dari sisi budaya dan dari sisi kehidupan sehari-hari. Secara umum mereka agak primitif, hal ini ditandai dengan tempat tinggalnya yang berada di goa-goa, di anak sungai dan lain sejenisnya. Di zaman yang sudah serba moderen ini, mereka pun belum mengenal pakaian yang layak yang dapat menutupi seluruh anggota tubuh. Dan yang membuat kita bertanya-tanya, kelompok mereka ini merasa takut bahkan sampai alergi dengan yang namanya sabun.

     Salah satu ciri yang menandakan mereka masih primitif adalah mereka selalu berpindah-pindah tempat tinggal, dari goa satu ke goa yang lain dan hidupnya selalu berkelompok dengan kelompoknya tersebut, biasanya kelompok turunan keluarga. Dan mereka akan menghindar dari kelompok-kelompok manusia lain. Inilah alasan mengapa mereka selalu berpindah-pindah tempat.

     Warga Punan ini di sebut juga warga pengembara dan hidup dalam satu kelompok tanpa berpisah-pisah. Dalam keseharian jika ada di antara wanita dan pria yang saling suka, mereka akan melakukan hubungan intim di dalam hutan. Begitu juga dengan tradisi melahirkan, jika ada yang hamil tua dan mau melahirkan wanita tersebut dibawa kedalam hutan atau tepi sungai untuk melahirkan bayinya. Bagi Punan yang tinggal didalam goa-goa, kebanyakan tak mengenal suami atau isteri. Secara umum jika mereka mau bergaul tergantung dari kesepakatan atau suka sama suka. Jadi bagi mereka tak ada istilah cemburu atau rasa memiliki sendiri. Jika ada yang hamil kemudian melahirkan, maka anak tersebut adalah anak bersama mereka. dimana mereka saling sayang menyayangi dan saling merawat satu dan lainnya.

     Makanan pokok mereka adalah umbi-umbian yang berasal dari hutan serta daging hewan hasil buruan. Dan mereka tidak memasaknya hingga matang bahkan terkadang akan dimakannya mentah-mentah, biasannya hanya dipanaskan dibawah terik matahari saja dan tidak memakai bumbu-bumbu seperti kalau kita memasak.

     Mungkin kita pernah mendengar kalau suku dayak adalah suku yang keras. Tetapi dari berbagai Suku Dayak, orang Punan inilah yang paling ditakuti oleh suku Dayak lainnya. Mereka memiliki kemampuan berperang yang baik hingga berani memenggal kepala orang dan memakan daging manusia. Mereka pun selalu siap untuk berkelahi jika ada sesuatu yang menyerang baik itu dari kelompok lain atau dari binatang buas yang ada dihutan.

     Kehidupan sehari-hari mereka selalu berharap kekayaan alam. Untuk mendapatkan barang yang mereka inginkan, mereka tidak membelinnya dengan mata uang, tetapi dengan barter barang yang mereka miliki seperti hasil alam rotan, damar, kayu gaharu, sarang wallet dan barang-barang itu biasanya di barter dengan garam, gula, tembakau atau rokok. Karena mereka enggan untuk bertemu dengan orang lain kecuali kelompoknya, pada waktu tukar menukar barang Suku Punan ini tidak bertatap muka secara langsung untuk melakukan pertukaran barang, tetapi mereka hanya menempatkan barang yang ingin ditukar disuatu tempat dan akan mengambilnya hasil pertukaran tersebut setelah orang yang menukar itu tidak berada ditempatnya.

     Dulu semasa Orde Baru ada semacam badan yang menangani masalah permukiman masyarakat terasing dan liar yang bernama "Resetlemen Penduduk". Rasanya keberadaan lembaga ini di bawah pemerintah daerah Provinsi Kalimantan Timur. Banyak keberhasilan dari "Respen" yang kini sudah berubah dan terbukti semisal perkampungan masyarakat terasing di "Gemar Baru" alur sungai Mahakam, atau perkampungan masyarakat terasing di "Sungai Lati" Kabupaten Berau yang dilaksanakan oleh Dinas Sosial.

     Patut rasanya bagi Pemerintah Daerah kalimantan Barat memperhatikan keadaan Suku Punan. Masalahnya jika benar ditelusuri, kehidupan dan seni budaya mereka adalah merupakan suatu asset yang langka dan patut dilestarikan. Kepunahan mereka adalah juga kerugian kita bersama. Kita cukup kaya dengan berbagai keragaman adat, seni dan budaya bangsa. Untuk itu mereka adalah merupakan tanggung jawab kita bersama.

     Itulah gambaran singkat mengenai Suku Dayak Punan dikehidupan sehari-harinya. Dan kita patut bangga memiliki Suku seperti ini di Indonesia. Meskipun masih dibilang primitif setidaknya kita harus mengenal dan kalau bisa malah berkunjung ke tempat mereka sehingga mereka tidak merasa tersaingkan di negri yang kaya raya ini.

Profil dari Suku Dayak Punan:



sumber:
-http://www.virmansyah.info/2013/01/mengenal-lebih-dekat-suku-dayak-punan.html
-http://lingsangsenja.blogspot.com/2012/05/dayak-punan.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar